Rombongan Lynx kembali menyusuri jalan menuju tempat kelompok suku Raksa yang menunggu. Wajah wanita yang baru mereka selamatkan, Marni, masih terlihat pucat, namun ia berusaha menenangkan dirinya sambil menggendong anaknya yang tertidur di pelukannya. Selama perjalanan,Marni menceritakan rombongannya sedang melakukan perjalanan dan diserang ditengah jalan, dia berhasil melarikan diri hingga akhirnya bertemu mereka. Lynx mengambil keputusan dan menceritakan rencananya untuk pergi sendirian menolong Marni menemukan rombongannya.

Arkha dan Narendra berjalan di samping Lynx, memberikan saran dan pertanyaan.

"Kau yakin ingin melakukan ini sendiri?" tanya Arkha dengan nada khawatir.

"Kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja," jawab Lynx singkat, matanya tetap fokus ke depan.

Kanha yang berjalan di belakang menarik napas panjang, tampak gelisah. "Aku tahu Kak Lynx kuat, tapi kalau perampok-perampok itu lebih banyak daripada Monrest, bagaimana?"

Lynx menoleh sedikit, tersenyum kecil. "Kanha, aku tidak sendirian. Aku punya kalian untuk menjaga semuanya tetap aman di sini. Itu tugas yang jauh lebih penting."

Ketika mereka mendekati tempat perhentian rombongan Raksa, suara obrolan pelan dan tawa terdengar samar. Namun, suasana langsung berubah saat melihat Lynx dan kelompok kecilnya mendekat bersama Marni dan anaknya.

Raka berjalan ke depan, wajahnya penuh perhatian. "Lynx, ada apa? Siapa mereka?"

"Ini Marni dan anaknya," jawab Lynx sambil menepuk bahu wanita itu dengan lembut. "Rombongan mereka diserang dan ditangkap perampok. Aku akan mencari sisanya. Tapi untuk saat ini, mereka aman bersama kita."

Arkha melangkah mendekat. "Kalau begitu, biarkan kami ikut bersamamu. Aku bisa membantu."

Narendra mengangguk tegas. "Aku juga. Kau tidak harus melakukannya sendiri."

Rira yang berdiri di samping Arkha menambahkan dengan nada cemas. "Aku juga ikut. Kau tidak tahu bahaya apa yang menunggumu di luar sana, Lynx."

Namun, Lynx mengangkat tangannya, meminta mereka untuk berhenti. "Tidak. Keselamatan suku Raksa harus kalian prioritaskan. Perjalanan kalian lebih penting sekarang."

Lynx menarik napas panjang, berbicara dengan tegas kepada semua orang. "Dengar baik-baik. Raka, Narendra, Arkha—kalian harus memimpin rombongan ini ke desa Uksa. Pastikan semua orang tiba dengan selamat. Uksa akan menjadi titik pertemuan pertama sebelum kita bergerak ke barat."

Narendra tampak tidak puas. "Lynx, kau tahu aku bisa melawan. Kenapa kau tidak membiarkan kami membantu?"

"Kau bisa melawan, Narendra. Aku tahu itu," jawab Lynx dengan suara lebih lembut. "Tapi mereka membutuhkanmu di sini. Tidak ada gunanya melawan musuh jika rombongan kita jatuh ke tangan mereka karena kurangnya perlindungan. Selain itu hanya kamu yang bisa menuntun mereka menuju suku Uksa."

Arkha menatap Lynx dengan tajam. "Dan bagaimana denganmu? Bagaimana kami tahu kau akan baik-baik saja?"

Lynx tersenyum samar. "Aku akan kembali. Jangan khawatir."

Di sela-sela diskusi, Banu maju dengan ekspresi puas. "Itu hanya alasannya saja. Tentu saja, dia ingin pergi. Dia takut kita membebaninya. Dia pasti hanya beralasan ingin menghadapi perampok itu. Aslinya dia akan melarikan diri dan berduaan dengan wanita itu."

Sejumlah anggota rombongan menoleh ke arah Banu, wajah mereka penuh kebingungan dan kecurigaan.

"Berhenti bicara omong kosong, Banu," bentak Arkha, wajahnya memerah karena marah.

Rira yang menyimpan perasaan suka kepada Lynx, mendadak merasa hening disekitarnya saat mendengar kata-kata Banu, "berdua? Dengan wanita itu?" Katanya di dalam hati. Lalu dia berkata tegas ke Banu "Lynx bukan orang  seperti itu, dia tidak mungkin ingin berduaan dengan Marni !"

Marni yang mendengarnya hanya diam tertunduk malu. Dia merasa menjadi beban bagi mereka. "Aku tidak bisa mengandalkan orang lain. Aku harus berusaha sendiri menolong keluargaku." batinnya.

Namun, Banu tidak mundur. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kita harus percaya pada orang luar ini? Apa jaminannya dia akan kembali?"

"Diam, Banu!" seru Narendra dengan tajam. "Lynx sudah menyelamatkan kita berkali-kali. Tanpa dia, kau bahkan mungkin sudah mati!"

Kanha, dengan wajah kecilnya yang penuh semangat, menatap Banu dengan tatapan tajam. "Kak Lynx jauh lebih berani daripada kau! Kau hanya bisa bicara besar tanpa pernah melakukan apapun!"

Suasana mulai memanas, namun Raka maju ke tengah, melambaikan tangannya untuk meminta semua orang tenang. "Cukup! Tidak ada yang meragukan Lynx di sini. Jika dia berkata akan kembali, aku percaya padanya."

Suara Raka membawa ketenangan. Para anggota rombongan mulai mengangguk setuju, dan Banu, meskipun masih tampak kesal, memilih untuk diam.

Lynx menatap semua orang dengan senyum tipis. "Terima kasih atas kepercayaannya. Sekarang, lakukan tugas kalian. Kita semua punya peran di sini."

Ketika rombongan Raksa mulai bersiap melanjutkan perjalanan, Lynx berbalik ke arah Marni dan anaknya. "Ayo, tunjukkan jalannya."

Marni tampak ragu, "Lynx, aku menghargai keinginanmu untuk membantuku. Tapi kamu sepertinya sangat dibutuhkan disini. Aku bisa mencari rombonganku sendiri." Katanya sambil menundukkan kepala.

"Marni, di tempat ini kita harus bekerja sama dan saling menolong. Aku tidak akan membiarkan kamu dan anakmu berdua di hutan tanpa ada yang melindungi. Aku bisa segera kembali mengejar rombonganku setelah memastikan keamananmu" Tegas Lynx.

Raka mendekati Marni dan dengan lembut berkata, "Lynx benar Marni, kami akan baik-baik saja. Biarkan Lynx membantumu."

"Iya Marni. Lynx orang yang bisa diandalkan. Kamu bisa mempercayainya." Kata Rira ikut membujuk.

Marni akhirnya mengangguk pelan dan setuju. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing dengan tujuan berbeda. Lynx membantu Marni, sementara rombongan Raksa menuju perkampungan Uksa.

Tiba-tiba di perjalanan Marni meminta maaf dan membuat pengakuan, "Lynx, maafkan aku. Sebenarnya aku tidak menceritakan seluruhnya kepada kalian. Rombongan kami bukan hanya sekedar diserang saat melakukan perjalanan. Kami sebenarnya melarikan diri dari perampok yang menyerang tempat tinggal kami." Katanya sambil menundukkan kepala. "Aku tidak berani menceritakan yang sebenarnya karena belum mengenal kalian."

"Tidak usah dipikirkan, aku tetap akan membantu menemukan keluarga kalian," kata Lynx dengan tenang.

Mereka mulai berjalan, meninggalkan rombongan Raksa yang terus bergerak ke barat. Lynx menjaga kecepatan mereka agar Marni dan anaknya tidak kelelahan, namun matanya tetap waspada terhadap setiap tanda bahaya di sekitarnya.

Saat berjalan, Marni mulai menceritakan apa yang ia tahu tentang para perampok.

"Mereka bukan kelompok biasa," katanya dengan nada rendah. "Mereka berasal dari berbagai suku. Beberapa dari Yaksa, sebagian dari Raksa, bahkan mungkin ada yang dari Uksa. Mereka bekerja sama untuk merampok, menculik, bahkan memperkosa."

Lynx mengangguk, wajahnya serius. "Apa mereka ada hubungannya dengan Monrest?"

Marni tampak ragu sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Beberapa dari mereka sering terlihat menyerahkan tawanan kepada Monrest. Aku mendengar mereka melakukannya untuk mendapatkan perlindungan atau keuntungan lain. Mereka tidak peduli pada siapa pun, hanya pada diri mereka sendiri." Dengan wajah bersedih dia melanjutkan, "Suku Yaksa sering pindah karena para perampok itu membocorkan lokasi kami sehingga Monrest dapat menemukan suku kami."

Lynx mengepalkan tangannya. "Jadi mereka bukan hanya perampok. Mereka adalah pengkhianat."

Marni mengangguk, wajahnya suram. "Aku mengenal beberapa dari mereka. Beberapa berasal dari Yaksa. Aku tidak ingin percaya, tapi... mereka adalah alasan aku dan anakku terus melarikan diri."

Lynx menatapnya dengan tajam. "Apa maksudmu?"

Marni terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku diusir dari Yaksa karena fitnah dari salah satu tetua. Aku dituduh membunuh suamiku karena harta, tapi sebenarnya mereka hanya ingin menyingkirkan aku. Salah satu dari tetua itu adalah orang yang sekarang bekerja dengan perampok."

Lynx mendengar dengan seksama, namun tidak berkomentar. Ia tahu cerita Marni belum selesai, namun fokus utamanya sekarang adalah menyelamatkan tawanan.

"Apapun yang terjadi, kita akan memastikan mereka tidak bisa melanjutkan kejahatan ini lagi," kata Lynx dengan tekad.

Marni mengangguk, meskipun wajahnya masih dipenuhi ketakutan dan rasa bersalah.

Perjalanan menuju tempat tinggal Marni terasa berat, terutama baginya yang mengenang tragedi yang menimpanya. Lynx tetap tenang, berjalan di depan dengan langkah mantap, sementara Marni terus memeluk anaknya erat-erat. Sepanjang perjalanan, Marni menceritakan tentang keluarganya yang kecil namun hangat sebelum tragedi terjadi.
